In the Name Of Allah,Most Gracious Most Merciful..
Menurut perspektif islam..
Praktek jual beli sperma melalui bank sperma menurut Hukum Islam adalah haramkarena pembeli yaitu perempuan yang memasukkan sperma yang dibelinya dari bank sperma ke dalam alat kelaminnya agar bisa hamil dengan inseminasi buatan yaitu suatucara atau teknik memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan, padahal spermayang dimasukkan tadi ke dalam alat kelamin perempuan adalah harus dengan seks dalamsuatu ikatan perkawinan.
Oleh karena itu menggunakan sperma bukan melalui melakukanhubungan seks dalam suatu ikatan perkawinan disebut zina dan didalam Islam terdapat beberapa yang dibenarkan oleh syariat untuk dijadikan barang jual beli seperti dalamsyarat sahnya perjanjian jual beli yang salah satunya adalah benda-benda yang dapatdijadikan sebagai objek jual beli haruslah memenuhi persyaratan yaitu adalah dapatdimanfaatkan karena barang yang diperjualbelikan harus mempunyai manfaat, karenasperma manusia bukanlah barang maka tidak boleh menjualnya.
Mengingat sperma tersebut bukan barang jadi tidak dibolehkan bagi kita mengambil manfaat atau Intifa’dengan sperma tersebut sehingga mengambil manfaat dari sperma adalah haram karena bukanlah suatu barang yang diperbolehkan menjualnya.
Teknik inseminasi buatan dari bank sperma menurut Hukum Islam adalah boleh dilakukan dengan sperma dan ovum suami istri, baik dengan cara mengambil sperma suami yang disuntikkan ke dalam vagina istri, maupun dengan cara pembuahan dilakukan diluar rahim, kemudian buahnya (vertilezed ovum) ditanam didalam rahim istri, ini dibolehkan asal keadaan suami istri tersebut benar-benar memerlukannya tapi teknik inseminasi buatan yang melibatkan pihak ketiga hukumnya haram karena alasan syariat tentang haramnya keterlibatan (benih atau rahim) pihak ketiga tersebut merujuk kepada maksud larangan berbuat zina dan teknik inseminasi buatan lebih disebabkan karenafaktor sulitnya terjadi pembuahan alamiah karena sperma suami yang lemah atau tidak terjadinya pertemuan secara alamiah antara sperma dan sel telur atau inseminasi buatanyang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul..
Renungkanlah
Abdullah bin Mubarak berkata:-Saya dapati dosa itu mematikan jiwa manakala melakukan dosa hingga sampai ke peringkat ketagih akan mewarisi kehinaan. Meninggalkan dosa bermakna menghidupkan hati. Oleh itu adalah baik bagi kamu agar menderhakai dosa.
Tafsir at-tahrim siri 1
http://www.mediafire.com/?izdxjjwynml
Tafsir at-tahrim siri 2
http://www.mediafire.com/?td0zmminyzj
Tafsir at-tahrim siri 3
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 4
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 5
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 6
http://www.mediafire.com/?q11jztzfnjm
Tafsir at-tahrim siri 7
http://www.mediafire.com/?j44hy0m2twd
Tafsir at-tahrim siri 8
http://www.mediafire.com/?t0mzklyuygy
Tafsir at-tahrim siri 9
http://www.mediafire.com/?nfe5nzlzmdd
Tafsir at-tahrim siri 10
http://www.mediafire.com/?dcwmmoyzaly
Tafsir at-tahrim siri 11
http://www.mediafire.com/?domxbnznzdn
Tafsir at-tahrim siri 12
http://www.mediafire.com/?gzqjyjkmayd
Tafsir at-tahrim siri 13
http://www.mediafire.com/?xj2myjmjgzd
Tafsir at-tahrim siri 14
http://www.mediafire.com/?zmjhm1itmgx
Tafsir at-tahrim siri 15
http://www.mediafire.com/?mldybyn1nzi
Tafsir at-tahrim siri 17
http://www.mediafire.com/?xnoyujzmtj4
Tafsir at-tahrim siri 19
http://www.mediafire.com/?qqzm4kmnh3l
Tafsir at-tahrim siri 21
http://www.mediafire.com/?yubuwmilymm
Tafsir at-tahrim siri 22
http://www.mediafire.com/?ryywdmjtzxm
Tafsir at-tahrim siri 23
vhttp://www.mediafire.com/?kombyggfjxn
Tafsir at-tahrim siri 25
http://www.mediafire.com/?mdz4rhwzj5j
Tafsir at-tahrim siri 26
http://www.mediafire.com/?fmmitvylzxy
Tafsir at-tahrim siri 27
http://www.mediafire.com/?h0kzwnmnght
Tafsir at-tahrim siri 28
http://www.mediafire.com/?dbwjd54wbtz
Tafsir at-tahrim siri 29
http://www.mediafire.com/?dndzylt4cnd
Tafsir at-tahrim siri 30
http://www.mediafire.com/?wzyeyjkkw2z
Tafsir at-tahrim siri 31
http://www.mediafire.com/?mjqxmzkehgo
Tafsir at-tahrim siri 32
http://www.mediafire.com/?jwtbqyyzvuy
http://www.mediafire.com/?izdxjjwynml
Tafsir at-tahrim siri 2
http://www.mediafire.com/?td0zmminyzj
Tafsir at-tahrim siri 3
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 4
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 5
http://www.mediafire.com/?2twm4hdtyzn
Tafsir at-tahrim siri 6
http://www.mediafire.com/?q11jztzfnjm
Tafsir at-tahrim siri 7
http://www.mediafire.com/?j44hy0m2twd
Tafsir at-tahrim siri 8
http://www.mediafire.com/?t0mzklyuygy
Tafsir at-tahrim siri 9
http://www.mediafire.com/?nfe5nzlzmdd
Tafsir at-tahrim siri 10
http://www.mediafire.com/?dcwmmoyzaly
Tafsir at-tahrim siri 11
http://www.mediafire.com/?domxbnznzdn
Tafsir at-tahrim siri 12
http://www.mediafire.com/?gzqjyjkmayd
Tafsir at-tahrim siri 13
http://www.mediafire.com/?xj2myjmjgzd
Tafsir at-tahrim siri 14
http://www.mediafire.com/?zmjhm1itmgx
Tafsir at-tahrim siri 15
http://www.mediafire.com/?mldybyn1nzi
Tafsir at-tahrim siri 17
http://www.mediafire.com/?xnoyujzmtj4
Tafsir at-tahrim siri 19
http://www.mediafire.com/?qqzm4kmnh3l
Tafsir at-tahrim siri 21
http://www.mediafire.com/?yubuwmilymm
Tafsir at-tahrim siri 22
http://www.mediafire.com/?ryywdmjtzxm
Tafsir at-tahrim siri 23
vhttp://www.mediafire.com/?kombyggfjxn
Tafsir at-tahrim siri 25
http://www.mediafire.com/?mdz4rhwzj5j
Tafsir at-tahrim siri 26
http://www.mediafire.com/?fmmitvylzxy
Tafsir at-tahrim siri 27
http://www.mediafire.com/?h0kzwnmnght
Tafsir at-tahrim siri 28
http://www.mediafire.com/?dbwjd54wbtz
Tafsir at-tahrim siri 29
http://www.mediafire.com/?dndzylt4cnd
Tafsir at-tahrim siri 30
http://www.mediafire.com/?wzyeyjkkw2z
Tafsir at-tahrim siri 31
http://www.mediafire.com/?mjqxmzkehgo
Tafsir at-tahrim siri 32
http://www.mediafire.com/?jwtbqyyzvuy
Tuesday, February 28, 2012
Wednesday, February 22, 2012
Puncak Tasawwuf Rabiatul Adawiyah

In The Name Of Allah,Most Gracious Most Merciful..
tangga terakhir adalah maqam ma’rifat yang akan mengantarkan pada rasa mahabbah (cinta). Mahabbah adalah rasa yang muncul setelah yaqîn dengan wujudnya kekasih (aL-Mahbub). Bagi pecinta (al-muhib) hatinya telah kosong dari selain kekasih karena telah dipenuhi dengan keindahan dan keagungan sang kekasih. Dalam maqam pecinta (al-muhib) seperti ini, nikmat dan bala’ tidak ada bedanya. Setiap nafas yang dikeluarkan adalah hembusan kalam hikmah, karena ia tidak melihat dan mendengar selain dari aL-Mahbub (Allah). Sedangkan orang yang telah mencapai derajat al-mahbub (kekasih Allah), setiap hembusan nafasnya adalah kepastian Allah, karena ia berjalan di atas makhluk dengan pertolongan Allah.
Derajat al-mahbub lebih tinggi dari al-muhib, sebab pecinta adalah salik yang terpikat (al-majdzub), sedangkan al-mahbub adalah orang terpikat (al-majdzûb) yang salik, al-muhib adalah murîd (pencari) sedang al-mahbûb adalah murod (yang dicari). Ibadah dilakukan untuk mu’awadloh (mencari keuntungan), sedangkan mahabbah untuk taqorrub (persandingan) dengan kekasih. Dari sinilah manusia bisa dikelompokkan menjadi empat. Yakni manusia yang mengharapkan pahala dunia akhirat, manusia yang mengharapkan pahala akhirat saja, manusia yang mengharapkan pemilik kedua pahala tersebut dan manusia yang sama sekali tidak memiliki harapan.
Rabî’ah aL-Adawiyyah (w. 165 H), sepenggal nama yang sangat legendaris dalam dunia tasawuf, telah dinobatkan sebagai wanita perintis jalan mahabbah ini. Ketika sufi wanita terkenal dari Bahsrah ini berziarah ke makam Rasûlullâh saw. pernah mengatakan; “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah swt.”. Tentang cinta itu sendiri Rabî’ah mengajarkan bahwa cinta harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabî’ah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasûlullâh saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai segala yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin.”
Untuk mencapai mahabbah ini, ada tangga-tangga (maqamat) yang harus dilewati, yakni taubat, zuhud, wara’, sabar, syukur dan ridlo. Pembagian tangga-tangga ini hanya sebatas teknis untuk memahamkan dan tidak bisa dipahami secara formal, dalam arti harus dijalani secara berurutan satu demi satu, melainkan boleh jadi semuanya dilakoni secara sekaligus. Dosa bagi penempuh jalan sufi adalah suatu yang sangat menyakitkan karena dapat memisahkan dengan Kekasih. Keyakinan bahwa dosa menjadi jurang pemisah dengan kekasih inilah yang akan membimbing seseorang tulus dalam taubat.
Setelah kerak dosa berhasil dihapus dengan taubat, maka dibutuhkan sebuah sikap penjagaan dari dosa, sikap yang harus dilakukan sebagai usaha ini adalah dengan gaya hidup zuhud dan wara’. Dalam perspektif sufi ada dua bentuk zuhud yang bisa dilakukan. Pertama zuhud dalam bentuk simbolis di mana seseorang menempatkan dunia di bawah kecintaan kepada Allah, artinya berharta namun tak sedikitpun terlintas dalam hati memilikinya. Kedua, zuhud total, yakni penolakan secara total segala sarana dan fasilitas duniawi. Jalan zuhud yang kedua inilah yang dipilih Rabî’ah sehingga membawanya pada sikap yang tidak bisa digoda oleh kemegahan dan kelezatan dunia.
Sikap zuhud atau menceraikan dunia dari hati harus diimbangi dengan sikap sabar dan syukur menghadapi setiap gelombang dan ombak kehidupan sehingga akan muncul sikap senantiasa ridlo dengan segala kehendak dan ketentuan Allah. Dalam konteks seperti ini, Rabî’ah pernah ditanya tentang ridlo, kapankah seorang hamba dikatakan ridlo? Dia menjawab; “apabila bagimu penderitaan sama menggembirakannya dengan anugrah”. Pernah ketika Rabî’ah sedang menderita sakit, Sufyan As-Saury memintanya berdoa agar lekas disembuhkan. Tetapi Rabî’ah malah mengatakan; “jika Allah bermaksud mengujiku, mengapa aku harus berpura-pura tidak tahu atas kehendak-Nya? Pernah juga suatu hari ketika Rabî’ah sedang shalat, batu bagian atas rumahnya jatuh mengenai kepalanya hingga berdarah. Ia tidak merasakan sedikitpun rasa sakit dan tetap melanjutkan shalat. Selesai shalat ia ditanya; Rabî’ah, apa engkau tidak merasakan sakit? Ia menjawab; “Tidak, sebab Allah telah menjadikan diriku ridlo menerima setiap kehendak-Nya. Setiap yang terjadi adalah atas kehendak-Nya”.
Di bawah kendali sikap sabar dan syukur inilah hamba akan senantiasa ridlo dengan setiap suratan Ilâhi yang telah digariskan. Mengeluh dan tidak menerima (ridlo) ketika ditimpa musibah adalah sikap berontak dan menggugat atas ketetapan-Nya. Sikap hamba seperti ini membuktikan masih mempersoalkan otoritas keagungan tuannya.
Keberhasilan melewati ritus-ritus di atas maka akan sampailah pada mahabbah yang merupakan puncak dari ajaran Rabî’ah. Ajaran cinta ini sebenarnya telah melampaui ajaran yang digagas oleh Hasan aL-Bashry yang bertumpu pada dorongan rasa takut (khauf) dan harapan (roja’). Bahkan Rabî’ah pernah melontarkan kritikan cerdas terhadap cara penyembahan Allah yang bertumpu pada khauf dan roja’. Dikisahkan, suatu hari sejumlah orang melihat Rabî’ah membawa sebatang obor dan seember air sambil berlari-lari. Mereka menegurnya, “wahai perempuan tua, hendak ke manakah engkau, dan apa arti semua ini? Rabî’ah menjawab; “aku akan menyulut api di surga dan menyiramkan air di neraka sehingga hijab di antara keduanya akan tersingkap sama sekali dari orang-orang yang berziarah dan tujuan mereka akan semakin yakin, lalu hamba-hamba Allah yang setia akan mampu menatap-Nya tanpa motifasi baik rasa takut atau harapan. Apa jadinya sekira harapan akan surga dan rasa takut akan neraka tidak ada sama sekali? Maka tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah”.
Menurut perspektif Rabî’ah, cinta membutuhkan totalitas, sehingga sikap yang harus dilakukan adalah bagaimana kekasih tidak merasa cemburu. Allah maha pencemburu. Jika tidak, kenapa Allah sangat murka dan tidak memaafkan ketika hamba menduakannya dengan sesembahan lain (musyrik)? Dikisahkan, suatu hari beberapa jamaah Rabî’ah mengunjunginya. Saat itu, Rabî’ah sedang terbaring sakit dengan tubuh lemah dan pucat. Mereka menyapa; “Rabî’ah, bagaimana keadaanmu?” Rabî’ah menjawab; “Aku juga tidak tahu apa penyebab penyakitku ini. Demi Allah diperlihatkan kepadaku surga, lalu aku terlintas untuk memilikinya. Mungkin Allah cemburu terhadap sikapku ini, lalu Dia mencelaku. Dia menghendaki agar aku kembali kepada-Nya dan menyadari kesalahanku”.
Inilah ajaran mahabbah yang dirilis Rabî’ah, sekedar membayangkan surga saja, ia sudah menganggap Kekasihnya cemburu. Sebuah kecemburuan suci. Jangankan kenikmatan duniawi, kenikmatan akhirat pun tidak ia harapkan, karena yang menjadi cita-citanya cuma satu; berjumpa dengan sang Kekasih (Allah). Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahan (jamâl) dan keagungan-Nya (jal’âl) yang sempurna (kamâl). Rumusan cinta Rabî’ah dapat disimak dalam doa mistiknya:
“Oh Tuhan, jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya dan besarkan tubuhku di neraka hingga tidak ada tempat lagi bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana dan berikan surga itu untuk hamba-hamba-Mu yang lain; sebab bagiku engkau saja sudah cukup; Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.”
Dalam kitab aL-Mahabbah, Imam aL-Ghazâly mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki level tertinggi.
“(Allah) mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. aL-Mâidah : 54)
Friday, February 17, 2012
~Hukum Penutup Muka~
بسم الله الرحمن الرحيم
In The Name Of Allah Most Gracious Most Merciful..
peace and blessings for the Prophet Muhammad's beloved us...
Gerakkan dan serangan wahabi Mesir tidak hanya sampai kepada pengahancuran kuburan dan menguasai masjid-masjid milik pemerintah, bahkan sekarang mereka turun dan berkumpul ke Dar Ifta` Mesir untuk berdemontrasi menuntut agar Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah turun dari jabatannya disebabkan fatwanya yang menurut kaum wahabi tidak berpihak kepada mereka.
Wahabi Mesir tidak menerima fatwa Syeikh Ali Jum`ah yang mengatakan bahwa Niqab ( Cadar / Purdah) suatu kebiasaan yang di bolehkan dan bukan merupakan satu kewajiban (ditinggalkan berdosa), sementara para jamhur ulama telah memutuskan bahwa wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat bagi perempuan.
Warga Wahabi membuat fitnah dengan memutar balikkan fatwa Syeikh Ali Jum`ah agar orang banyak mendukung mereka yang ingin menjatuhkan Mufti, mereka mengatakan bahwa Mufti mengharamkan pemakaian Niqab di Mesir Hal ini di bantah oleh Mufti sebagaimana yang di kutip oleh surat kabar harian ” Yaum Sabi` ” pada tanggal 29 April 2011.
Mahkamah Agung Adriministratif menanyakan kepada Mufti tentang hukum menggunakan Niqab dan pelarangan menggunakannya sementara ketika melaksanakan prosedur adriministrasi memasuki ruang ujian ( pemeriksaan-red ) dan membuat pasport, mengingat sudah banyak kejadian perempuan-perempuan yang menggunakan niqab berlaku curang ketika didalam ujian.
Maka Mufti menegaskan : ” bawah fatwa yang di keluarkan oleh Lembaga Fatwa Mesir dan Lembaga Riset Islam yang terdiri dari ulama besar di seluruh dunia menyatakan bahwa wajah dan telapak tangan bukan termasuk auratnya perempuan, sebagaimana juga pendapat mayoritas ulama islam dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Imam Mardawi al-Hanbali mengatakan bahwa pendapat yang sahih didalam mazhab Hanbali adalah muka dan telapak tangan tidak termasuk aurat “.
Mufti melanjutkan :
” Bahwa fatwa ini bukan saja dimulai oleh mereka, bahkan Imam Auza`i, Imam Abu Tsur , Atha`, Ikrimah, Sa`id bin Jubair, Abu Sya`tsa`, ad-Dhahak, Ibrahim an-Nakha`i juga berpendapat seperti itu, sementara diantara para sahabat yang berpendapat seperti itu adalah Umar, Ibnu Abbas,
Dan Mufti juga menegaskan bahwa ;
pemakaian Niqab merupakan satu kebiasaan menurut mayoritas ulama, hal ini merupakan kebebasan seseorang yang ingin memakainya atau tidak memakainya, kecuali jika bersangkut paut dengan adriministarasi seperti membuat pasport, kartu kependudukkan, identitas diri, bekerja di lembaga kesehatan, unit keamanan dan sebagianya maka boleh bagi pemerintah melarang menggunakan Niqab ketika urusan tersebut dilaksanakan”.
Mufti menambahkan :
” Beginilah keputusan ulama umat dari zaman dahulu sampai sekarang jika bersangkut paut sesuatu yang Mubah ( Boleh-red) maka negara boleh membatasinya sesuai dengan maslahah dan mudhrat.
Sementara Partai Nahdhah mengecam golongan yang ingin menurunkan mufti sebagaimana yang di kutip oleh surat kabar harian ” Youm Sabi` ” pada tanggal 1 Mei 2011.
Adham Hasan sebagai wakil pendiri Partai Nahdhah berkata :
” Mufti Mesir berfatwa berlandaskan mazhab mayoritas ulama dari Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi`iyyah, dan Hanbilah yang tidak berhaluan keras, kami mengecam suara tinggi yang ingin menjatuhkan Mufti dan pemikiran redikal serta mendukung pendapat Mufti Mesir, beliau merupakan ulama terhormat yang sangat jarang sekali didapati seperti dia di negeri ini”.
Bahkan parati Nahdhah akan membuat demontrasi besar-besaran mendukung mufti dan menolak golongan redikal dari kelompok wahabi yang berdemontarsi di depan bangunan lembaga Fatwa Mesir.
Perlu di ketahui :
1- Di sebabkan penggunaan Niqab banyak terjadi pencurian di Mesir, sebab pelakunya adalah seorang laki-laki yang menggunakan Niqab, demikian juga baru-baru ini tertangkapnya seorang laki-laki yang membawa senjata tajam di lapangan Tahrir, laki-laki ini menggunakan Niqab untuk melaksanakan aksinya, banyak terjadi penzinaan di rumah seorang perempuan yang suaminya bekerja di luar, sebab kekasih gelapnya menggunakan niqab untuk masuk kerumah mereka, dan peristiwa yang banyak terjadi adalah banyaknya pengguna niqab yang curang didalam ujian atau pemeriksaan di Universitas, mereka menggunakan telfon genggam ( Hp-Handset ) ketika melaksanakan aksinya, dan banyak pegawas ujian yang menangkap mereka.
2 – Orang yang menggunakan Niqab kebanyakkannya menganggap bahwa perempuan yang tidak menggunakannya dalah perempuan yang jahat, bermaksiat dan berdosa sehingga berhak masuk kedalam neraka.
= Niqab adalah penutup muka bagi seorang perempuan.
Senyum....
Syukur...
Selalu..
Selamat beramal.
Bicara Sang Faqir,
Sudan,Arkhawit,baitil intihad,
1 P.M,Jumaat.
Friday, February 3, 2012
~Kunci Tabir Kehidupan~

In The Name Of Allah Azza Wajalla, Most Gracious, Moast Merciful
Man 'arafa nafsahu, 'arafa rabbahu, faqad 'arafa rabbahu, fasadal jasadu..maksudnya Barangsiapa mengenal dirinya, kenallah Tuhannya, apabila kenal Tuhannya, binasa jasadnya...
Ayat di atas, pada sesetengah orang yang mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati, menerima ayat ini dari sudut keilmuan dalam konteks ianya adalah kata-kata hukama' (ahli hikmah), oleh kerana ada sebahagian ulama' mengatakan ianya bukan hadis Nabi saw. Justeru bagi memelihara diri dan wara' serta bimbang termasuk dalam sabda Nabi saw yang mengatakan, siapa-siapa mendakwa sesuatu itu dariku (Nabi saw), tetapi sebenarnya bukan dariku, maka nerakalah lebih layak baginya.
Jika kita buka link ini - Hadith: Siapa Kenal Dirinya Maka Kenal Tuhannya?
kita mendapati beberapa pendapat dan pandangan ulama'. Bahkan ada ulama' yang mentafsirkannya dari sudut pandang keilmuan dan kefahaman yang mereka ada tetapi tidak lari dari kefahaman Ahli Sunnah wal Jamaah.
Dalam Al-Hikam (Ibnu Athaillah), banyak terdapat kata-kata ahli hikmah, justeru banyak dari kalangan orang-orang soleh dan para wali seringkali mengeluarkan kata-kata hikmah dan sebahagian kata-kata hikmah itu terkumpul dalam kitab ini. Ramai guru-guru telah mensyarahkan kitab ini. Di Malaysia boleh dikatakan di setiap negeri ada ramai ustaz mengadap kitab ni. Di pondok-pondok, kitab ni boleh dikatakan antara yang perlu disyarahkan. Guru yang arif akan mensyarahkan kitab ini dengan baik.
Ok..balik kepada kalam hukama' - Man 'arafa nafsahu, 'arafa rabbahu, faqad 'arafa rabbahu, fasadal jasadu..maksudnya Barangsiapa mengenal dirinya, kenallah Tuhannya, apabila kenal Tuhannya, binasa jasadnya...
Jika kita mahu memahami ayat di atas secara lafzi semata-mata, rasanya sukar difaham. Untuk mudah memahaminya kita buka sedikit dari maksud ayat ini...
Saidina Ali ra pernah mengatakan: Aku menyembah Allah yang aku nampak...Pada sisi aliran fekah serta aliran orang yang mahu memahami satu-satu ucapan atau perkataan secara lafzi semata-mata (termasuklah ayat-ayat Al Quran dan hadis-hadis bukan hanya kata-kata hikmah tertentu sahaja), mana boleh kan? Nampak Allah yang disembah sebab Allah tu laisa kamitslihi syai'un, ertinya Allah itu tidak sama dengan segala sesuatu. Tetapi ulama' ilmu ketuhanan, tarikat, tasauf dan kerohanian menerima perkataan-perkataan ini dengan huraian ilmu dan kefahaman mereka. Ada lagi satu hadis sahih yang berkaitan, iaitu tentang ihsan, engkau menyembah Allah seolah-olah engkau nampak Allah, jika tak dapat, engkau yakinlah menyembah Allah seolah-olah Allah nampak engkau.
Yakin tu rasa yang ada di dalam hati. Saidina Ali ra melihat Allah dari matahatinya. Saidina Ali juga terkenal kisahnya tentang solat yang khusyuk. Al kisahnya, Saidina Ali terkena panah, apabila hendak mencabut anak panahnya keluar semasa keadaan biasa, terasa sakitnya. Lalu Saidina Ali ra mengatakan cabutlah anak panah itu ketika aku solat...Itulah keadaannya ihsan..Itulah maksud Saidina Ali ra yang mengatakan Aku menyembah Allah yang aku nampak. Itulah maksud kata-kata hikmah -
Man 'arafa nafsahu, 'arafa rabbahu, faqad 'arafa rabbahu, fasadal jasadu..maksudnya Barangsiapa mengenal dirinya, kenallah Tuhannya, apabila kenal Tuhannya, binasa jasadnya.Jasad Saidina Ali seolah-olah binasa, tiada rasa sakit, tiada kesedaran sewaktu anak panah dicabut dari tubuhnya..Itulah maksud khusyuk dalam solat..Tentang khusyuk ni pun banyak juga huraian dan pendapat ulama', halaqian boleh membacanya dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al Ghazali rh..
Ulama' yang 'arif ilmu ketuhanan, sesetengah orang memanggil 'arifbillah, menghuraikan kalimah ismuz zat, lafaz jalalah Alif Lam Lam Ha "ALLAH" itu lebih mendetail. ZatNya, sifatNya, asmakNya dan af'alNya. Jadi dalam maksud perkataan Saidina Ali serta hadis ihsan itu, ulama' menghuraikan lagi maksud dan ertinya...
Allah yang mana yang dimaksudkan oleh Nabi saw dan Saidina Ali itu?......
Huraian tentang solat juga diperdalami dengan lebih mendetail dari sudut keilmuan tetapi rukun dan syarat sama sekali tak boleh diabaikan...rukun dan syarat itu diperincikan lagi ilmu dan kefahamannya....umpama nak makan kuih, supaya kuih lebih halus dan sedap terasa kelazatannya, lalu digali ilmu pembuatan kuih itu supaya kuih lebih berkualiti..Huraian tentang solat juga diperdalami dengan lebih mendetail dari sudut keilmuan tetapi rukun dan syarat sama sekali tak boleh diabaikan...
rukun dan syarat itu diperincikan lagi ilmu dan kefahamannya....umpama nak makan kuih, supaya kuih lebih halus dan sedap terasa kelazatannya, lalu digali ilmu pembuatan kuih itu supaya kuih lebih berkualiti..
Zulfadhli Othman,sudan(compelx Petronas),
11 rabiulawal 1433,
3:17 P.M
~Isthikharah~

In The Name Of Allah,Most Gracious,Most Merciful..
Istikharah Perlu Difahami
Maksud Istikharah ialah kita meminta bantuan Allah dalam membuat pilihan dalam pelbagai perkara dan urusan. Menurut hadith yang dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya dengan sanadnya daripada Jabir radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata:
Daripada Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam Baginda bersabda:
Apabila sesiapa daripada kalangan kamu diberatkan oleh sesuatu maka hendaklah dia Rukuk dengan dua Rukuk (mengerjakan Solat dua rakaat) yang selain daripada Solat yang Fardhu (yakni mengerjakan Solat dua Rakaat dengan niat Istikharah).
istikharah menurut sunnah rasulullah,
Lakukan Solat istikharah 2 rakaat sama dengan solat2 sunnah lain, membaca dsurah alfatihah dalam setiap rakaat dan ayat2 yang mudah di baca tidak harus surat al-kafirun di rakaat pertama dan al-ikhlas di rakaat ke dua(setelah alfateha) kemudian setelahnya berdoa (istikharah)
sesuai dengan hadis shahih berikut:
Jabir bin Abdullah r.a mengabarkan,
" Rasulullah saw, mengajari kami istikharah dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajari kami surat AlQur'an. Kata Beliau,"Apabila salah seorang dari kalian mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu, hendaklah dia rukuk dua rakaat yang bukan fardhu(lima waktu), lalu hendaklah dia membaca doa istikharah...."(HR Bukhari, Ahmad,dll)
Kemudian hendaklah dia berdoa: Ya Allah, aku beristikharahkan Engkau dengan ilmu-Mu dan aku juga memohon ketetapan dengan ketetapan yang bersandarkan kurniaan-Mu yang Maha Agung. Engkaulah yang Maha Menetapkan sedangkan aku tidak mampu untuk menetapkan. Engkau Maha Mengetahui dan aku pula tidak mengetahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui akan perkara-perkara yang tersembunyi. Ya Allah, jika pada ilmu-Mu sesungguhnya urusan ini adalah baik untukku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan datang), maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkatilah bagiku di dalam pilihan ini. Dan andaikata pada ilmu-Mu sesungguhnya hal ini adalah buruk bagiku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan akan datang), maka hindarkanlah ia daripadaku dan hindarkanlah aku daripadanya. Tetapkanlah bagiku kebaikan dan jadikanlah aku redha dengannya.
Ketenangan Membuat Keputusan
Berdasarkan hadis di atas, kita memohon Allah memberikan kita yang terbaik semasa kita membuat pilihan terhadap sesuatu perkara. Kerana Allah mengetahui apa yang tersirat di dalam setiap sesuatu kejadian. Yang berlaku pasti ada hikmahnya. Tatkala kita masih ragu-ragu dengan pilihan yang ingin dibuat, laksanakanlah lagi solat tersebut. Tidak ada masalah untuk melakukannya berulang kali, sehingga kita beroleh ketenangan ketika membuat keputusan. Menurut al-Imam al-Nawawi, seseorang yang melakukan istikharah, maka dadanya akan terbuka luas untuk sesuatu urusan, malah dia akan terlihat kebaikan pada perkara yang akan dilakukan atau sebaliknya.
Secara amnya, kita timbang tara setiap keputusan yang dibuat, dan untuk memudahkan kita menyakini keputusan yang ingin dilaksanakan, seelok-eloknya mintalah pandangan kepada mereka yang kita percaya dan mampu memberi pendapat dengan baik terhadap perkara tersebut. InsyaAllah, keputusan mana yang kita rasa terbaik, itulah yang kita ambil. Bukannya menanti petanda dan berkata “Allah telah menunjukkan bahawa itu yang perlu dilakukan”. Dikhuatiri syaitan yang memberi petanda yang kita harapkan, kerana pilihan yang kita inginkan selalunya yang menyalahi tuntutan iman kita.
Satu petikan dari artikel tersebut ialah Tambahan pula dalam keadaan jiwa anak muda yang selalu lemah untuk menolak kehendak diri dan sering terdorong mengikut kemahuan. Jiwanya tidak bulat meminta kepada Allah, sebaliknya bermain helah untuk mengharapkan Allah menyokong kecenderungan dirinya sendiri. Tatkala mana kita mengharapkan petanda adalah berharap Allah menunjukkan petanda yang sesuai dengan kemahuan kita. Bukannya berdasarkan timbang tara akal fikiran dalam melaksanakan sesuatu keputusan.
Istikharah Memohon Keredhannya
Setelah Solat Istikharah dilakukan, kita berharap keyakinan untuk melakukan keputusan tanpa perlu menanti petanda dariNya. Apa yang terjadi selepas itu pasti ada hikmah, samada berbentuk nikmat atau ujian. Bersangka baik sesuatu pilihan, selagi pilihan itu berada di jalanNya, dengan berlandaskan iman, bukan nafsu yang membuak-buak. Ubah mentaliti tentang mengharap mimpi datang, atau petanda berdasarkan keadaan, kerana kita yang membuat keputusan, dan tuhan yang menampakkan hasil di sebalik pilihan. Petunjuk itu memang ada, cuma jangan menantinya serta mengharapkannya, hindarinya, kerana syaitan berusaha mengambil kesempatan pada dalam kesempitan. Berhati-hati dengan pilihan kita, jika memudaratkan, penuh keburukan, jelas sekali, bukan dariNya, melainkan syaitan yang berusaha menyesatkan kita.
Orang yang tidak mungkin shalat, mis perempuan yg sedang haid boleh mengerjakan istikharah hanya dengan membaca doanya(tanpa shalat)demikian juga yang lain yg tidak memungkinkan untuk shalat., jadi tidak ada alasan untuk tidak beristikharah ketika mengalami pilihan.
Syaikhul Islam ibnu Tamiyyah menyatakan,
" dalam sholat istikharah ataupun shalat lainnya, boleh berdoa sebelum salam ataupun sesudahnya. Sedangkan doa sebelum mengucapkan salam itu lebih utama karena sebagian besar doa nabi adalah sebelum salam.Di samping itu sebelum salam itu artinya org yg shalat itu blum beranjak maka ini lah yg lebih baik. Wallahua'lam."(majmu alfatawa, 23/177)
Apa sahaja pilihan yang dibuat, redha dengan ketentuannya. Kerana ketentuan itu adalah petunjuk dariNya juga. Firman Allah
“..Mungkin kamu benci pada sesuatu, sedangkan ia lebih baik bagimu, mungkin juga kamu cintai sesuatu, sedangkan ia mudarat bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak”
(Al-Baqarah : 216).
Nah, sekarang mari kita lakukan istikharah sebelum mengambil keputusan agar tiada cela di dalamnya..InshaAllah.
Zulfadhli Othman,sudan,(complex petronas)
3Februari 2012,
3:10 A.M.
Thursday, February 2, 2012
~Bertakwalah kpd Allah dmana sahaja kamu berada~

Kalimat hamdalah dan puji syukur yang senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Jalla wa `Ala yang senantiasa memberikan kepada kita kenikmatan-Nya, kenikmatan yang nampak dan yang tersembunyi. Terkhusus kenikmatan Islam, iman, dan kenikmatan berpegang teguh terhadap agama Allah ini merupakan kenikmatan yang besar yang diberikan kepada kita semua.
Dan juga merupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita dimana pada malam ini kita dikumpulkan dalam majelis ilmu. Di dalamnya kita saling mengingatkan, semoga Allah menggolongkan kita diantara orang-orang yang saling beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati di dalam kebenaran dan kesabaran, dan semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mendapat naungan pada hari kiamat di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Tujuh golongan yang akan Allah berikan naungan padanya pada hari kiamat di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,…”salah satunya adalah dua orang yang mereka saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena Allah, dan mereka berpisah juga karena Allah.
Maka kita berharap pertemuan kita pada malam hari ini mendapatkan berkah dari Allah, pertemuan dalam keadaan kita saling mencintai karena Allah, persahabatan yang erat, yang tidak akan dipisahkan oleh Allah baik di dunia atau di akhirat. Bahwa orang orang yang berteman setia pada hari kiamat nanti sebagiannya akan bermusuhan dengan yang lainnya kecuali orang yang bertakwa. Maka merupakan hal yang baik bila dalam pertemuan singkat ini kita saling menasihati, Rasulullah bersabda dalam hadits Muslim bahwa agama itu dibangung di atas nasihat.
Bekal dalam kehidupan dunia yang menjadikan kita semoga termasuk diantara orang-orang yang selalu berada di dalam kebaikan dan mendapatkan ridha dari Allah yaitu:
Bertakwa kepada Allah
Firman Allah,
“Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah bertakwa (kepada Allah)“. Dan wasiat ini sama untuk umat Nabi Muhammad dan umat sebelumnya, sebagaimana dalam Firman Allah, “Dan sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian dan kalian agar selalu bertakwa kepada Allah“.
Salah seorang ulama mendefinisikan taqwa dengan,
“Bertakwa kepada Allah adalah engkau beramal dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah di atas cahaya dan bimbingan dari Allah dalam keadaan engkau mengharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya dan bimbingan dari Allah dalam keadaan engkau takut mendapat siksa-Nya”.
Zulfadhli Othman.sudan,(complex petronas)
9 rabiul awal 1433H,
10:45P.M
Saturday, January 28, 2012
Khitbah Menurut Fuqaha Dan Hadis Nabi S.A.W

"Khitbah" (Bahasa Arab) / "bertunang" (Bahasa melayu) adalah muqaddimah atau permulaan kepada az-zawaj(Bahasa Arab) / nikah atau kahwin (Bahasa Melayu). Sesungguhnya Allah menjadikan khitbah sebagai salah satu dari syariat-syariat / perundangan-perundangan Agama Islam. Apa hikmat, faedah atau kelebihannya??? Kerana khitbah memberi peluang kepada kita semua untuk at-ta'arruf / berkenalan dengan pasangan masing-masing dari segi zahir dan batin sebelum kita bernikah atau berkahwin.
"Khitbah" (bahasa Arab) bererti "bertunang"(bahasa Melayu). "Tafsiran" lafaz atau perkataan "bertunang" ini berbeza mengikut tempat, kawasan, adat dan suasana masyarakat masing-masing. Berbeza di antara negara Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia. Dan kemungkinan berbeza juga di antara beberapa tempat, adat, suasana serta kawasan-kawasan di dalam negara masing-masing. Contohnya di dalam Indonesia, tafsiran "bertunang" di Medan dan Jakarta berbeza. Di dalam Thailand, tafsiran "bertunang" di Bangkok dan Pattani berbeza. Begitulah seterusnya di tempat-tempat lain.
"Khitbah" di dalam bahasa Arab apabila diterjemah maknanya ke dalam Bahasa Melayu bermakna 'melamar' wanita untuk dijadikan bakal isteri. "Melamar" ini juga bermakna meminta persetujuan pihak wanita untuk menjadi isteri kepada pihak lelaki. Khitbah ini memakan 'masa' berdasarkan kebiasaan atau adat yang masyhur dipegang kawasan, tempat, adat dan suasana masyarakat.
"Khitbah" juga bermakna proses lelaki meminta dari pihak perempuan untuk berkahwin dengan cara-cara atau jalan-jalan yang diketahui masyhur di tempat masing-masing.(Fiqh Assunnah oleh Syed sabiq).
"Khitbah" juga membawa makna menzahir dan mengiklankan kehendak / kemahuan seseorang untuk berkahwin dengan seseorang wanita.(Fatawa Muasoroh oleh Dr. Yusof Al Qardawi). Dr. Yusof Al- Qardawi juga berkata (buku yang sama) bahawa di dalam khitbah / bertunang ini tidak ada "hak" bagi khatib(tunang lelaki) kecuali hak untuk melamar ( to reserve or booking) makhtubah (tunang wanita) semoga pihak lelaki selain darinya tidak datang untuk meminang wanita itu.
[ HUKUM KHITBAH / BERTUNANG DI DALAM ISLAM ]
Hukum khitbah ini adalah "harus" tetapi Imam As-Syafie(sila rujuk buku Mughni Almuhtaj) mengatakan hukumnya adalah "al-istihbab / sunat". Dan Dr. Abd. Karim Zaidan(sila rujuk buku Almufassal fi Ahkam Al Mar'ah mengatakan bahawa hukum "al-istihbab / sunat" ini lebih aula(utama / baik) dari hukum "harus" tadi.
[ DALIL ATAU BUKTI DISYARIATKAN (DIPERUNDANGKAN) KHITBAH / TUNANG ]
Dalil atau bukti di"bolehkan" khitbah / tunang ini terlalu banyak. Contohnya ialah...
1) Hadis Rasulallah saw yang mafhumnya: " tidak halal bagi kamu penjualan di atas penjualan orang lain dan tidak halal bagi kamu pertunangan di atas pertunangan orang lain".
Mengikut hadis ini kita faham bahwa kita tidak dibenarkan oleh syarak untuk meminang seseorang wanita / laki pabila wanita / laki itu sudah dipinang orang. Ini dalil dibolehkan 'khitbah' tetapi, dalil ini tidak 'soreh' / tidak terus (indirect). Ulamak dan orang-orang yang 'faqeh'/ faham hukum-hakam mengambil hukum "boleh" khitbah dalam Islam dari sini. Bagaimana?? Begini, cuba rujuk hadis ini semula. Khitbah dibolehkan dalam Islam, tetapi yang tidak bolehnya ialah meminang seseorang wanita / laki di atas pinangan orang lain. Maka, khitbah boleh. Moga anda semua faham.
2) Hadis. Dari Jabir bin Abdillah bahawa Rasulallah saw bersabda: " Apabila salah seorang dari kamu bertunang, maka jika sekiranya dia boleh melihat wanita itu hingga membawa kepada kehendak atau kemahuan untuk bernikah / kahwin, maka lakukan!!! ". Berkata Jabir (perawi) hadis ini: " aku telah bertunang dengan wanita dari Bani Salamah, aku telah bersembunyi tanpa dilihat oleh wanita itu sehingga aku melihat sebahagian dari 'diri / tubuh badan' wanita itu yang boleh membawa kepada kehendak dan kemahuan aku untuk menikahi atau mengahwininya".
2 dalil di atas dipetik dan diambil dari buku Fiqh Assunnah oleh Syed Sabiq.
[TEMPOH ATAU MASA YANG DIBENARKAN OLEH SYARAK UNTUK BERKHITBAH / BERTUNANG ]
1. Tempoh / masa khitbah yang dipersetujui oleh jumhur ulamak (ramai Ulamak) ialah tempoh yang tidak panjang atau lama.
2. Jumhur ulamak (ramai Ulamak) berselisih pendapat dalam mentafsirkan / menentukan makna "tempoh panjang / lama" itu. Berapa hari, berapa minggu, berapa bulan, berapa tahun.
3. Maka tempoh ini semua ditentukan oleh 'uruf / adat yang masyhur dipegang di sesuatu tempat.
4. Jika di sesuatu tempat mentafsirkan tempoh lama satu HARI, maka satu harilah yang mesti dipegang oleh sesiapa yang menjalankan khitbah ini.
5. Jika di sesuatu tempat mentafsirkan tempoh lama satu MINGGU, maka satu minggulah yang mesti dipegang oleh sesiapa yang menjalankan khitbah ini.
6. Jika di sesuatu tempat mentafsirkan tempoh lama satu BULAN, maka satu bulanlah yang mesti dipegang oleh sesiapa yang menjalankan khitbah ini.
7. Jika di sesuatu tempat mentafsirkan tempoh lama satu TAHUN, maka satu tahunlah yang mesti dipegang oleh sesiapa yang menjalankan khitbah ini.
Ini semua contoh yang saya berikan kepada anda semua. Maka lepas ini boleh anda rujuk sendiri 'tempoh' atau 'masa' ini kepada mereka yang tinggal di kawasan anda. Tanyakan, biasanya di tempat anda ini berapa "tempoh paling lama" khitbah / bertunang ??? Jika 2 hari, 3 minggu, 4 bulan atau 5 tahun (contoh), maka semua ini terpulang kepada 'uruf / adat di sesuatu tempat, adat, kawasan dan suasana.
semoga kalian faham,amalkan dan terus-menerus istiqamah dlm melaksanakannya..
moga dlimpahi keberkatan dri ilahi..
Zulfadhli Othman,Sudan(Complex Petronas)
28 Januari 2012
8:43 a.m
Sunday, January 22, 2012
حقائق حب

Bismillahi `ala rasulil anbiya`i wal mursalin wa Habibillahi S.W.T..
In The Name Of Allah,Most Gracious And Most Merciful..
Allahu Akhbar..!
Dalam perca-perca kenangan cinta, aku teringatkan titik permulaan aku mengenali diri mu. Beginilah cinta, mewarnai kehidupan kita semenjak kecil sehinggalah kita dewasa. Aku sering mengharapkan agar kau kekasih ku menoktahkan kebimbangan diri ini dalam percintaan. Mari kita buktikan pada dunia bahawa cinta kita ini suci dan
abadi. Aku pegang erat janji mu, kita menuju gerbang cinta sej
ati. Jangan biark
an cinta ini karam di lautan sepi. Jangan biarkan kemenangan berpihak kepada mereka yang menjadikan cinta kita sebagai bahan perjudian. Mereka semua tidak berhak menilai percintaan kita, kerana rasa kasih dan sayang yang kita kongsi bersama ini hanyalah kita yang mampu memahaminya.
pesanku pada DIA..;
"Kau umpama sekuntum mawar, cantik menawan dengan haruman lalu datang sang kumbang menyapa, memberi kasih menitip sayang lalu bermulalah suatu episod cinta agung antara kita"
Cinta ini umpama secawan madu dengan hempedu. Dilimpahi dengan kemanisan tetapi juga dipenuhi dengan pancaroba. Jika kita ingin merasai kemanisannya, jangan lupa untuk bersedia merasai kepahitannya juga.
Kadang-kadang bila kita sudah memiliki sebuah cinta kita terlupa yang cinta itu masih perlu sentiasa dipupuk dan dibajai dengan kasih sayang. Kita terlalu yakin kita akan memiliki cinta itu sampai bila-bila pun. Apabila segalanya berakhir barulah kita akan menyedari kesilapan yang kita telah lakukan. Dan malangnya kesedaran itu sentiasa datang terlambat.
Begitulah cinta. Ia dan manusia tidak akan pernah bisa dipisahkan..
Jangan kerana cinta, kita gugur dari perjuangan, dan jangan kerana cinta juga, prinsip kita menjadi larut dan cair. Cinta tidak semestinya akan berakhir dengan perkahwinan dan perkahwinan juga tidak semestinya akan menoktahkan titik akhir kepada percintaan. Kesetiaan akan mengikat cinta, kecurangan akan meranapkan segala kemanisan cinta. Sesebuah perkahwinan akan menjadi indah jika cinta terus bersama.
Cinta itu adalah hidup. Cinta itu adalah jiwa. Dan cinta itu adalah insan.
Nah! Cinta itu hakikat pautannya adalah Erat...
Terima Kasih Allah kerana telah menganugerahkan Cinta ku pada DIa
Dan Cinta DIa pada Ku..
Kekalkanlah kessetiaan+Kejujuran+keikhlasan antara kami,
Titipkanlah CINTA antara kami semata2 KRN engkau wahai ALLAH...
Zulfadhli Othman,Sudan(Complex Petronas)
23Januari2012,
10:53 pagi.
Tuesday, November 29, 2011
Cinta ilahi bukan Lakaran Puisi
“Cukuplah sudah aku dipermainkan selama ini. Cintaku kini hanya untuk Ilahi. Bukan untuk mana-mana lelaki!”, ungkap seorang siswi yang putus cinta.
“Cinta manusia adalah palsu belaka. Cinta Allah, itu yang utama”, kata seorang yang lain.
Termenung saya membaca ungkapan-ungkapan seperti ini. Semakin banyak kedengaran di dalam lirik-lirik nasyid. Semakin banyak kelihatan di blog tempat orang muda meluahkan kekecewaan.
Fahamkah mereka dengan apa yang mereka ungkapkan?
Cinta Ilahi?
Tiada lagi cinta lelaki?
Wanita gila harta?
Hanya Allah sahaja yang ‘setia’?
saya memang tidak suka mendengar orang bercakap benda yang dia sendiri tidak faham. Mumbling… kata orang Putih.
Apakah ada konflik antara cinta Allah, cinta lelaki, dan cinta perempuan? Cinta hanya satu. Pilih sama ada buayafriend mahu jatuh hati kepada gelifriend, atau menyerahkan cintanya hanya kepada yang Esa?
Saya tidak suka orang bermain dengan kata-kata.
Jika sudah kecewa dengan si dia, tiada lagi cinta kepada penggantinya?!
BERTAPA?
Habis, mahu ke mana? Ke puncak gunung bertapa seperti rahib? Enggan berumahtangga kerana mahu mendedikasikan diri kepada Dia dan bukan dia? Fikiran apa ini? Islamkah yang mengajar kita berfikir begitu?
Tidakkah kita sudah dinasihati tentang kisah segelintir sahabat yang tersilap memahami cara melihat Ibadah Nabi SAW yang begitu sederhana?
“Sesungguhnya salah seorang daripada sekumpulan sahabat Nabi sallallahu alayhi wa sallam telah berkata, “Berkenaan dengan diriku, maka aku akan berpuasa dan tidak berbuka. Berkata seorang yang lain: Aku akan berQiyam di malam hari dan tidak akan tidur. Dan berkata lagi seorang yang lain: Aku pula, aku tidak akan mengahwini perempuan. Seorang lagi berkata: Aku pula, sekali-kali aku tidak akan memakan daging. Lalu Baginda Sallallahu alayhi wa sallam bangun dan berucap, lantas Baginda berkata, “Apa halnya dengan pemuda-pemuda yang setiap seorang mereka ini berkata begini begitu? Aku sendiri berpuasa dan berbuka, bangun malam dan aku juga seorang yang mengahwini perempuan juga aku memakan daging. Barangsiapa yang tidak ingin kepada Sunnahku maka dia bukan dari kalangan (pengikut)ku” (Dari Sunan al-Nasaa’ie, no. 3217)
Janganlah bermain-main dengan kata-kata yang kosong dari makna, jauh sekali dari yakin dan percaya. Belajarlah untuk menyelami makna dan menyebut perkara yang kita jelas tahu akan makna dan maksudnya.
Ungkapan cinta Ilahi bukan ungkapan yang kosong, jauh sekali abstrak dan penuh misteri.
Cinta Ilahi bukan inspirasi untuk mengungkapkan syair-syair yang bertepek di sana sini di blog siswa siswi.
Jangan berlakon menjadi Rabiatul Adawiyah. Tidak perlu memakai kasutnya. Rabiatul Adawiyah itu insan yang tersendiri.
Bagi kita di sini, bercintalah dengan Allah secara realiti.
CINTA ILAHI ADA CARANYA
Tidak pernahkah kita merenung ingatan dari Allah sendiri terhadap orang yang mendakwa mereka itu cinta kepada-Nya?
“Katakanlah: Jika sesungguhnya kamu itu mencintai Allah maka ikutlah aku, nescaya kamu juga akan dikasihi oleh Allah, dan akan diampun-Nya kesalahanmu. Dan Allah itu Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Aal Imraan 3: 31)
Jika cintakan Allah, contohilah Rasulullah SAW. Hiduplah macam Rasulullah, buatlah kerja macam Rasulullah.
Sibukkan diri dengan belajar dan mengajar, berdakwah dan memberi peringatan, membela agama dan bekerja untuk ummah, sibukkan diri dengan segala kebajikan demi cinta kita kepada-Nya.
Berhentilah berpuisi, andai puisi itu datang dari sebuah khayalan tentang cinta Ilahi sambil memicit jerawat di tingkap pagi.
Jika mahu mengungkapkan Cinta pada madah dan kata, luahkan ia dari rohani dan jasmani yang bekerja untuk kekasih-Nya. Hiasilah blog kalian dengan catatan amal dan muhasabah diri, bukan retorik dan angan-angan terhadap CINTA ILAHI.
“Cinta manusia adalah palsu belaka. Cinta Allah, itu yang utama”, kata seorang yang lain.
Termenung saya membaca ungkapan-ungkapan seperti ini. Semakin banyak kedengaran di dalam lirik-lirik nasyid. Semakin banyak kelihatan di blog tempat orang muda meluahkan kekecewaan.
Fahamkah mereka dengan apa yang mereka ungkapkan?
Cinta Ilahi?
Tiada lagi cinta lelaki?
Wanita gila harta?
Hanya Allah sahaja yang ‘setia’?
saya memang tidak suka mendengar orang bercakap benda yang dia sendiri tidak faham. Mumbling… kata orang Putih.
Apakah ada konflik antara cinta Allah, cinta lelaki, dan cinta perempuan? Cinta hanya satu. Pilih sama ada buayafriend mahu jatuh hati kepada gelifriend, atau menyerahkan cintanya hanya kepada yang Esa?
Saya tidak suka orang bermain dengan kata-kata.
Jika sudah kecewa dengan si dia, tiada lagi cinta kepada penggantinya?!
BERTAPA?
Habis, mahu ke mana? Ke puncak gunung bertapa seperti rahib? Enggan berumahtangga kerana mahu mendedikasikan diri kepada Dia dan bukan dia? Fikiran apa ini? Islamkah yang mengajar kita berfikir begitu?
Tidakkah kita sudah dinasihati tentang kisah segelintir sahabat yang tersilap memahami cara melihat Ibadah Nabi SAW yang begitu sederhana?
“Sesungguhnya salah seorang daripada sekumpulan sahabat Nabi sallallahu alayhi wa sallam telah berkata, “Berkenaan dengan diriku, maka aku akan berpuasa dan tidak berbuka. Berkata seorang yang lain: Aku akan berQiyam di malam hari dan tidak akan tidur. Dan berkata lagi seorang yang lain: Aku pula, aku tidak akan mengahwini perempuan. Seorang lagi berkata: Aku pula, sekali-kali aku tidak akan memakan daging. Lalu Baginda Sallallahu alayhi wa sallam bangun dan berucap, lantas Baginda berkata, “Apa halnya dengan pemuda-pemuda yang setiap seorang mereka ini berkata begini begitu? Aku sendiri berpuasa dan berbuka, bangun malam dan aku juga seorang yang mengahwini perempuan juga aku memakan daging. Barangsiapa yang tidak ingin kepada Sunnahku maka dia bukan dari kalangan (pengikut)ku” (Dari Sunan al-Nasaa’ie, no. 3217)
Janganlah bermain-main dengan kata-kata yang kosong dari makna, jauh sekali dari yakin dan percaya. Belajarlah untuk menyelami makna dan menyebut perkara yang kita jelas tahu akan makna dan maksudnya.
Ungkapan cinta Ilahi bukan ungkapan yang kosong, jauh sekali abstrak dan penuh misteri.
Cinta Ilahi bukan inspirasi untuk mengungkapkan syair-syair yang bertepek di sana sini di blog siswa siswi.
Jangan berlakon menjadi Rabiatul Adawiyah. Tidak perlu memakai kasutnya. Rabiatul Adawiyah itu insan yang tersendiri.
Bagi kita di sini, bercintalah dengan Allah secara realiti.
CINTA ILAHI ADA CARANYA
Tidak pernahkah kita merenung ingatan dari Allah sendiri terhadap orang yang mendakwa mereka itu cinta kepada-Nya?
“Katakanlah: Jika sesungguhnya kamu itu mencintai Allah maka ikutlah aku, nescaya kamu juga akan dikasihi oleh Allah, dan akan diampun-Nya kesalahanmu. Dan Allah itu Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Aal Imraan 3: 31)
Jika cintakan Allah, contohilah Rasulullah SAW. Hiduplah macam Rasulullah, buatlah kerja macam Rasulullah.
Sibukkan diri dengan belajar dan mengajar, berdakwah dan memberi peringatan, membela agama dan bekerja untuk ummah, sibukkan diri dengan segala kebajikan demi cinta kita kepada-Nya.
Berhentilah berpuisi, andai puisi itu datang dari sebuah khayalan tentang cinta Ilahi sambil memicit jerawat di tingkap pagi.
Jika mahu mengungkapkan Cinta pada madah dan kata, luahkan ia dari rohani dan jasmani yang bekerja untuk kekasih-Nya. Hiasilah blog kalian dengan catatan amal dan muhasabah diri, bukan retorik dan angan-angan terhadap CINTA ILAHI.
Friday, November 4, 2011
Benang merahku dengan ESQ ^__^
....بسم الله الرحمن الرحيم
~وقد ثبت ويصلي على النبي محمد الإسلام على جميع المخلوقات~
Kita di minta untuk membaca , untuk berfikir, untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di seluruh penjuru bumi. KataNya tak ada yang sia-sia dalam penciptaannya. Setiap sebab dan akibat berada dalam kekuasaanNya. Ia pun berkata, setiap kebaikan akan kembali kepada pelakunya, begitu pula tiap kejahatan. Tak ada yang tak berbalas di dunia ini.
Sehingga jika kita baca hidup yang telah terlewat, selalu ada benang merah yang menghubungkan tiap masa, tiap peristiwa, dan tiap tokoh dalam hidup kita. Bahkan di saat kita sudah lupa nanti, benang merah itu akan tetap terulur sampai akhir hidup.
Terkadang aku khuatir melihat benang merah itu, namun terkadang aku kehilangan jejak. Oh kelemahan ini, kembali menyedarkan. Aku hanya seorang manusia yang sedang berusaha.
nasehat ayahku ;
"carilah hikmah dimana saja P,
bahkan jika dari najis Anjing!
Jangan sampai semua terlewat,
tanpa ada hikmah yang tergenggam."
tazkirah shbt kpdKU;
" bermimpilah, berdoalah, lakarkan semua mimpi,
ceritakan mimpi-mimpi nta tu,
visualisasikan mereka ! Karena semua benda
didunia ini sesungguhnya diciptakan dua kali.
Pertama kali diciptakan didalam benak seseorang,
dan kedua diciptakan ddalam realita."
Ada lagi nasehat bagus : buka hati dan fikiran agar bisa menerima ilmu-ilmu yang tertuang. Beri ruang untuk ilmu baru, namun jangan kosongkan fikiran, agar tetap bisa menyaring. Jangan tutup hati dan fikiran dengan sikap sombong dan sinis, sehingga ilmu tak dapat masuk. Lalu bagi ilmu itu, agar ilmu tidak mati.
****
Pertama kali mendengar tentang training ESQ bertahun-tahun yang lalu, tidak terlalu mengerti sebenarnya. Tetapi semangat ingin belajar begitu menggebu, sehingga tanpa sadar terucap doa di dalam hati; " Ya Allah aku ingin ikut ESQ, tolong berikan jalan". Karena dimasa itu, melihat biaya yang begitu besar yang harus di keluarkan, aku tak mampu lah.
Waktu berlalu, keinginan itu masih terukir.
Bahkan ketika mendapat pekerjaan pertama, yang secara logika melihat dari kondisiku, seharusnya mampu dan dapat ikut ESQ. Namun itulah, rejeki bukan hanya uang. Rejeki itu adalah kesempatan, waktu, dan izinNya.
Tahun berganti, tempat baru dan profesi baru., masih belum ada kesempatan untuk mengikuti training ESQ. Eh malah dapat kesempatan lain, ikut training ' Umat Terbaik Hidup Berkah'. Training yang bertujuan untuk membangun kekuatan yang telah ada di dalam diri manusia, agar kita dapat menjadi seperti fitrah kita : Umat terbaik untuk dunia ini. Training yang juga berlandaskan Al-Quran dan Hadist. Syukur kuucapkan, banyak ilmu dan hikmah dari training ini. Apalagi kesempatan untuk mengikuti training ini kudapatkan dengan gratis, terus dari trainernya ' Pak Samsul Arifin', dan itu karena profesiku. Sekali lagi, terbukti bahwa rejeki tidaklah sama dengan uang.
Tahun kembali berganti. Terdengar kabar, kakak saudaraku baru saja mengikuti training ESQ, kembali ada rasa rindu di hati. Lalu teman dekatku pun ternyata sudah ikut. Walaupun ingin sekali ikut, tapi saat itu seperti tak ada jalan. Bukan hanya tak ada dana, bahkan informasi pun tak ada.
Beberapa hari kemudian mendapat hadiah buku dari seorang sahabat : 'Journey of love'. Kisah rumah tangga seorang wanita Indonesia dengan seorang muallaf, bule Jerman. Singkat cerita, di antara pencarian sang bule, ia sempat mengikuti training ESQ.
"bahkan didalam sebuah novelpun t`singkap kalimah ESQ."
****
Ya Allah, aku teringat di masa yang lalu ketika aku dan dia masih sering menyakiti. Sedih sekali saat itu, apalah ini bersaudara tapi seperti musuh. Masa kelabu yang suram, masa ketika diri dikendalikan oleh nafsu. Ketika akhirnya kesadaran itu datang, kami telah dewasa, apa yang telah lewat tak bisa diulang. Yang kami miliki sekarang adalah masa kini. Ternyata mudah sekali menghindari pertengkaran, cukup bersabar, tutup mulut ketika yang keluar hanya kata-kata kasar, dan berlapang dada ketika salah satu sedang tidak stabil.
Jika dulu ekspresi yang kami kenal adalah ekspresi saling menyakiti, sekarang kami sedang belajar untuk tak sungkan meminta maaf, kami belajar untuk mengungkapkan ekspresi saling menyayangi. Masih tertatih, terkadang rasa gengsi pun masih muncul, namun ya Allah, bantu kami saling menyayangi.
“ Maaf..maaf…maaf..maaf “
Satu hal yang kami sadari, kami adalah keluarga. Keluarga yang berharap berkumpul bersama di dunia dan di syurga kelak. Amiin
****
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya untukMu ya Allah, pemilik seluruh nama-nama yang indah
~وقد ثبت ويصلي على النبي محمد الإسلام على جميع المخلوقات~
Kita di minta untuk membaca , untuk berfikir, untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di seluruh penjuru bumi. KataNya tak ada yang sia-sia dalam penciptaannya. Setiap sebab dan akibat berada dalam kekuasaanNya. Ia pun berkata, setiap kebaikan akan kembali kepada pelakunya, begitu pula tiap kejahatan. Tak ada yang tak berbalas di dunia ini.
Sehingga jika kita baca hidup yang telah terlewat, selalu ada benang merah yang menghubungkan tiap masa, tiap peristiwa, dan tiap tokoh dalam hidup kita. Bahkan di saat kita sudah lupa nanti, benang merah itu akan tetap terulur sampai akhir hidup.
Terkadang aku khuatir melihat benang merah itu, namun terkadang aku kehilangan jejak. Oh kelemahan ini, kembali menyedarkan. Aku hanya seorang manusia yang sedang berusaha.
nasehat ayahku ;
"carilah hikmah dimana saja P,
bahkan jika dari najis Anjing!
Jangan sampai semua terlewat,
tanpa ada hikmah yang tergenggam."
tazkirah shbt kpdKU;
" bermimpilah, berdoalah, lakarkan semua mimpi,
ceritakan mimpi-mimpi nta tu,
visualisasikan mereka ! Karena semua benda
didunia ini sesungguhnya diciptakan dua kali.
Pertama kali diciptakan didalam benak seseorang,
dan kedua diciptakan ddalam realita."
Ada lagi nasehat bagus : buka hati dan fikiran agar bisa menerima ilmu-ilmu yang tertuang. Beri ruang untuk ilmu baru, namun jangan kosongkan fikiran, agar tetap bisa menyaring. Jangan tutup hati dan fikiran dengan sikap sombong dan sinis, sehingga ilmu tak dapat masuk. Lalu bagi ilmu itu, agar ilmu tidak mati.
****
Pertama kali mendengar tentang training ESQ bertahun-tahun yang lalu, tidak terlalu mengerti sebenarnya. Tetapi semangat ingin belajar begitu menggebu, sehingga tanpa sadar terucap doa di dalam hati; " Ya Allah aku ingin ikut ESQ, tolong berikan jalan". Karena dimasa itu, melihat biaya yang begitu besar yang harus di keluarkan, aku tak mampu lah.
Waktu berlalu, keinginan itu masih terukir.
Bahkan ketika mendapat pekerjaan pertama, yang secara logika melihat dari kondisiku, seharusnya mampu dan dapat ikut ESQ. Namun itulah, rejeki bukan hanya uang. Rejeki itu adalah kesempatan, waktu, dan izinNya.
Tahun berganti, tempat baru dan profesi baru., masih belum ada kesempatan untuk mengikuti training ESQ. Eh malah dapat kesempatan lain, ikut training ' Umat Terbaik Hidup Berkah'. Training yang bertujuan untuk membangun kekuatan yang telah ada di dalam diri manusia, agar kita dapat menjadi seperti fitrah kita : Umat terbaik untuk dunia ini. Training yang juga berlandaskan Al-Quran dan Hadist. Syukur kuucapkan, banyak ilmu dan hikmah dari training ini. Apalagi kesempatan untuk mengikuti training ini kudapatkan dengan gratis, terus dari trainernya ' Pak Samsul Arifin', dan itu karena profesiku. Sekali lagi, terbukti bahwa rejeki tidaklah sama dengan uang.
Tahun kembali berganti. Terdengar kabar, kakak saudaraku baru saja mengikuti training ESQ, kembali ada rasa rindu di hati. Lalu teman dekatku pun ternyata sudah ikut. Walaupun ingin sekali ikut, tapi saat itu seperti tak ada jalan. Bukan hanya tak ada dana, bahkan informasi pun tak ada.
Beberapa hari kemudian mendapat hadiah buku dari seorang sahabat : 'Journey of love'. Kisah rumah tangga seorang wanita Indonesia dengan seorang muallaf, bule Jerman. Singkat cerita, di antara pencarian sang bule, ia sempat mengikuti training ESQ.
"bahkan didalam sebuah novelpun t`singkap kalimah ESQ."
****
Ya Allah, aku teringat di masa yang lalu ketika aku dan dia masih sering menyakiti. Sedih sekali saat itu, apalah ini bersaudara tapi seperti musuh. Masa kelabu yang suram, masa ketika diri dikendalikan oleh nafsu. Ketika akhirnya kesadaran itu datang, kami telah dewasa, apa yang telah lewat tak bisa diulang. Yang kami miliki sekarang adalah masa kini. Ternyata mudah sekali menghindari pertengkaran, cukup bersabar, tutup mulut ketika yang keluar hanya kata-kata kasar, dan berlapang dada ketika salah satu sedang tidak stabil.
Jika dulu ekspresi yang kami kenal adalah ekspresi saling menyakiti, sekarang kami sedang belajar untuk tak sungkan meminta maaf, kami belajar untuk mengungkapkan ekspresi saling menyayangi. Masih tertatih, terkadang rasa gengsi pun masih muncul, namun ya Allah, bantu kami saling menyayangi.
“ Maaf..maaf…maaf..maaf “
Satu hal yang kami sadari, kami adalah keluarga. Keluarga yang berharap berkumpul bersama di dunia dan di syurga kelak. Amiin
****
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya untukMu ya Allah, pemilik seluruh nama-nama yang indah
Monday, December 13, 2010
Memahami Sunnah Evolusi...

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,
Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini dan tidak ada keadaan yang sentiasa tetap.
Bumi ini berputar.
Alam bergerak.
Manusia, haiwan dan tumbuhan semuanya menjalani perubahan kehidupan.
Perubahan merupakan sunnatullah yang tidak akan pernah berubah.
Keadaan suatu bangsa juga pasti mengalami perubahan.
Peta kejayaan dan kekalahan suatu umat pun pasti bergilir.
Semua itu berlaku silih berganti seperti pergantian malam dan siang atau seperti putaran roda.
Itulah putaran perubahan yang tunduk kepada sunatullah.
Apakah rahsia di sebalik sunnatullah tersebut?
Al-Qur’an mengajarkan semua itu kepada kita agar :
Kita tidak jatuh dalam lubang kekecewaan dan keputusasaan.
Kita tidak terjerumus dan terlontar oleh arus yang tidak menentu dalam berjuang menegakkan kebenaran dan menjalani kenyataan hidup.
Suasana saat ini adalah masa-masa yang genting di mana rentang waktu yang banyak membuatkan kita resah, sedih, perihatin dan gelisah.
Resah akan ketidakupayaan dunia dan umat Islam di hadapan kerakusan orang-orang yang rakus.
Kesedihan dan keperihatinan kerana ketidakmampuan dunia dan umat Islam menghadapi kezaliman orang-orang yang zalim.
Benar, tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini tetapi yang lebih penting kita renungi sekarang adalah petunjuk Allah bahwa perubahan itu tidak berdiri sendiri.
PERUBAHAN NASIB DAN KEADAAN BUKAN SEBUAH HADIAH. Firman Allah swt :
“Allah tidak mengubah keadaan atau nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada dalam diri mereka.”
Menurut Al-Bukhturi dalam `Diwan’nya, ada dua unsur terpenting dari perubahan iaitu :
Hati yang berkilau.
Semangat yang bergelora.
Ia menyebutnya dalam ungkapan, “nafsun tadhi` wa himmah tatawaqqad”.
1. HATI YANG BERKILAU. Hati yang berkilau adalah kiasan dari niat yang bersih dari bebanan noda, kotoran, hawa nafsu, cita-cita keduniaan dan kepentingan peribadi walau apapun bentuknya.
Itulah yang menjadi prinsip dan pegangan Umar bin Abdul Aziz iaitu Khalifatul Mu’minin yang diberi julukan sebagai `Khulafa ur Rasyidin’ kelima
.
Hisyam bin Abdul Malik menggambarkan hal ini dalam ungkapannya :
“Aku tidak mendapati Umar melangkah satu langkah sekalipun kecuali Umar telah meneguhkan niatnya.” (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam)
Kuat dan lurusnya niat Umarlah yang menjadikannya berhasil dalam waktu dua tahun lebih melakukan perubahan besar yang menyeluruh ke semua wilayah Islam.
Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang amat kita rindui dan dambakan itu memang pernah mengatakan niat dan tekadnya ketika ia menggantikan kedudukan khalifah yang sebelumnya dipegang oleh Sulaiman bin Abdul Malik.
Ketika itu Umar mengatakan :
“Aku akan duduk di sebuah tempat yang tidak kuberikan sedikitpun tempat untuk syaitan.” (Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam).
Itulah niat dan tekad Umar iaitu :
Bersih.
Tulus.
Kukuh.
Itulah jiwa yang berkilau.
Niat yang bersih juga menjadi ukuran prestasi dan kualiti amal yang dilakukan oleh pemiliknya.
Abdullah bin Mubarak pernah menyebutkan :
“Berapa banyak amal yang kecil tapi dibesarkan oleh niat dan berapa banyak amal yang banyak namun dikecilkan kerana niat.”
Begitu juga ungkapan tokoh tabi’in, Mutharrif bin Jalil Abdullah :
“Baiknya amal tergantung kepada baiknya hati. Baiknya hati tergantung dengan baiknya niat. Siapa yang niatnya baik maka ia akan baik dan siapa yang niatnya bercampur dan kotor, maka ia menjadi kotor dan bercampur.”
Mari bersama kita tanamkan keyakinan bahwa niat dan kebersihan hati ini mestilah kita letakkan pada tempat yang paling tinggi yang mendapat perhatian kita yang paling besar.
Jangan sampai, berbagai aktiviti lain menjadikan kita lupa dari memelihara niat dan kesucian hati.
Inilah yang disinggung oleh Musthafa Shadiq Ar Rafi’i dalam `Wahyul Qalam’ :
“Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan dan membetulkan kehidupan yang ada di sekitarmu, tapi engkau meninggalkan kekacauan dalam hatimu.”
2. SEMANGAT YANG BERGELORA.
Syarat perubahan yang kedua, adalah `himmah tatawaqqadu‘ iaitu semangat yang tinggi dan bergelora.
Niat yang bersih akan menjadi kekuatan yang dahsyat apabila diikat dengan :
Ketinggian tekad.
Kekuatan semangat.
Menurut Ibnul Qayyim dalam `Al-Jawaabul Kaafi’ :
“Hati itu seperti burung, bila terbang meninggi maka ia akan jauh dari bahaya, tapi bila ia semakin dekat ke bumi, ia semakin terancam oleh bahaya.”
Kekuatan burung untuk terbang lebih tinggi mesti didukung dengan kekuatan niat dan semangat.
Pertautannya begini, setiap kali jiwa seseorang meninggi semangatnya maka hati pun akan bersih dari berbagai pencemaran dan sentiasa sibuk dengan urusan yang besar. Sekaligus semangat itu pula yang akan menjadikan hati terpelihara dari penyakit dan panahan syaitan.
Semangat dan obsesi yang tinggi ini yang menjadikan seorang salafussoleh di hadapan murid-muridnya mengatakan :
“Demi Allah aku tidak menyukai kehidupan dunia untuk mencari wang atau untuk berdagang, tapi untuk zikir kepada Allah dan membacakan kepada kamu hadits Rasulullah saw.” (Tarikh Baghdad)
Inilah juga yang menjadikan Imam Hasan Al Banna dalam `Muzakkiratu dakwah wad da’iyah’ mendefinasikan pejuang Islam adalah orang yang :
“Memberikan seluruh hartanya, seluruh darahnya, seluruh jiwanya di jalan akidahnya yang ia yakini kebenarannya dan ia lakukan hidup untuknya.”
Tidak ada jiwa yang tidak disibukkan dengan perkara yang besar kecuali ia akan disibukkan oleh perkara yang kecil.
Tidak ada jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan kecuali ia pasti disibukkan dengan keburukan.
Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam `Ar Raqaai’q’ mengatakan :
“Jiwa itu sentiasa cenderung pada yang enak dan santai. Tidak berselera kepada sesuatu yang tidak disukai dan berat. Maka angkatlah jiwamu sejauh engkau boleh mengangkatnya ke tempat yang tinggi.” Begitulah indah dan idealnya kekuatan iman.
Tapi ingat, semangat yang tinggi bagi mempersembahkan hidup untuk urusan-urusan yang besar serta berjuang untuk kepentingan akhirat bukanlah bererti :
Tidak menjejakkan kaki di bumi.
Menolak segala keperluan wasilah dan prasarana kehidupan.
Ini adalah kerana justeru bekalan ketinggian semangat untuk mengharungi perjuangan panjang mestilah juga disokong dengan perbekalan kehidupan yang mencukupi.
Jiwa ini perlu kepada :
Tentangan.
Perlawanan.
Dalam suasana ada tentangan dan perlawanan yang memunculkan `mujahadah’ atau usaha keraslah akan munculnya kualiti iman yang baik.
Sayyid Quthb, pejuang dakwah Islam yang syahid di tali gantung sangat mengerti sekali tentang perkara ini apabila beliau berkata di dalam `Haadza Deen’ :
“Hakikat iman tidak akan terbukti kesempurnaannya dalam hati seseorang sehingga ia menghadapi tentangan dengan usaha orang lain (yang berlawanan dengan imannya). Kerana di sinilah, seseorang akan melakukan mujahadah sebagaimana orang lain melakukan mujahadah kepadanya untuk menghalanginya dari keimanan. Di sinilah cakrawala iman akan tersingkap dan terbuka. Keterbukaan yang tidak pernah berlaku pada jiwa orang yang merasakan iman secara datar”.
Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami sentiasa terpaut dengan perkara-perkara yang akan meninggikan darjat kami di sisiMu. Jauhkanlah diri kami dari terlibat dengan hal-hal yang tidak penting serta tidak memberi manfaat kepada ketinggian Islam. Kurniakanlah kepada kami jiwa yang bersinar serta semangat yang tinggi untuk kami serahkan segala-galanya di atas jalanMu yang lurus.
Ameen Ya Rabbal Alameen
Wan Ahmad Sanadi Wan Ali
Pengerusi JK Tarbiah IKRAM Shah Alam
“Ukhuwah Teras Kegemilangan”
Tuesday, November 2, 2010
perkara Yang Nak diBawa Ke Mahkamah Allah
Dunia Kini Nampaknya kemaksitan dan kemungkaran adalah perkara biasa, bencana jugak makin hari makin banyak, kemalangan sana sini, dah nak kiamat ke dunia ni...MasyaAllah
Kiamat tu pasti datang, tapi adakah kita bersiap sedia dengan itu...Banyak benda jugak berlaku dalam tempoh beberapa minggu, hingga tiada tempat untuk mengadu masalah selain Allah.
Ni antara satunya, apabila hiburan tu menjadi sesuatu yang sangat diraikan dan dinanti-nantikan tapi bila suruh pergi program agama..hampeh..banyak la alasan tu alasan ni...benda ni yg kita nak bawa ke akhirat
Istiqamah dan Pilihlah Jalanmu
Sesungguhnya hidayah tu milik Allah, bukan layak seseorang naqib dan naqibah untuk menentukan siapa yang akan bersamanya, cuma si naqib dan naqibah ni antara orang yang bertuah kerana dicampak hidayah tu dan bila-bila masa saje Allah boleh tariknya. Maka berbekalkan hidayah tu, para naqib naqibah ni pun mahu menarik adik-adiknya bersama-samanya, bersama-sama rasa hebatnya ISLAM, indahnya ISLAM, mabruknya BERJEMAAH, rahmatnya UKHWAH, manisnya MEMPERJUANGKAN ISLAM...
Tapi jika ada adik usarah yang mahu menjauhkan diri dan lari, apalah daya, ditarik pun masih cuba melepaskan diri, maka hidayah milik Allah...pilihalah jalanmu...tapi apa yang nak dibawa ke akhirat kelak...adakah amalan kita sehebat sufi, segah wali dan para ulama'..jika demikian pilihlah jalanmu
Tapi jika kita berasa kita tidak mamapu, maka ambillah alternatif yang Allah berikan kat kita...syahid dengan memperjuangkan agama-Nya...istiqamahlah
Naqib Naqibah Refleksi Diri
Kenapa adik usrah lari? Kenapa adik usrah ni susah sangat nak ikut usrah dan program-program lain usrah? Yang palin penting puncanya adalah dari naqib naqibah sendiri, kalau usrah pun payah nak buat, jumpe pun kadang-kadang macamana adik-adik nak ikut kata kita, tapi bila kita dah CUBA untuk buat semua tu tapi masih tak berjaya...berserah saja pada Allah...hidayah milik Allah
Kalau boleh kita nak bawak semua umat Islam untuk sama-sama bangkit memperjuangkan Islam, namun apa daya kita, Nabi Nuh berdakwah seama beratus tahun namun masih tak dapat bawa semua umatnya bersama-samanya, begitu juga Rasulullah, bukan semua mahu bersama-sama baginda. Oleh, itu jangan bersedih, kita merancang, Allah juga merancang, tapi perancangan Allah adalah yang TERBAIK!!!
Semoga amalan-amalan kita buat ni menjadi benda YANG BAIK untuk dibawa ke akhirat kelak...InsyaAllah
Wallahualam.
Kiamat tu pasti datang, tapi adakah kita bersiap sedia dengan itu...Banyak benda jugak berlaku dalam tempoh beberapa minggu, hingga tiada tempat untuk mengadu masalah selain Allah.
Ni antara satunya, apabila hiburan tu menjadi sesuatu yang sangat diraikan dan dinanti-nantikan tapi bila suruh pergi program agama..hampeh..banyak la alasan tu alasan ni...benda ni yg kita nak bawa ke akhirat
Istiqamah dan Pilihlah Jalanmu
Sesungguhnya hidayah tu milik Allah, bukan layak seseorang naqib dan naqibah untuk menentukan siapa yang akan bersamanya, cuma si naqib dan naqibah ni antara orang yang bertuah kerana dicampak hidayah tu dan bila-bila masa saje Allah boleh tariknya. Maka berbekalkan hidayah tu, para naqib naqibah ni pun mahu menarik adik-adiknya bersama-samanya, bersama-sama rasa hebatnya ISLAM, indahnya ISLAM, mabruknya BERJEMAAH, rahmatnya UKHWAH, manisnya MEMPERJUANGKAN ISLAM...
Tapi jika ada adik usarah yang mahu menjauhkan diri dan lari, apalah daya, ditarik pun masih cuba melepaskan diri, maka hidayah milik Allah...pilihalah jalanmu...tapi apa yang nak dibawa ke akhirat kelak...adakah amalan kita sehebat sufi, segah wali dan para ulama'..jika demikian pilihlah jalanmu
Tapi jika kita berasa kita tidak mamapu, maka ambillah alternatif yang Allah berikan kat kita...syahid dengan memperjuangkan agama-Nya...istiqamahlah
Naqib Naqibah Refleksi Diri
Kenapa adik usrah lari? Kenapa adik usrah ni susah sangat nak ikut usrah dan program-program lain usrah? Yang palin penting puncanya adalah dari naqib naqibah sendiri, kalau usrah pun payah nak buat, jumpe pun kadang-kadang macamana adik-adik nak ikut kata kita, tapi bila kita dah CUBA untuk buat semua tu tapi masih tak berjaya...berserah saja pada Allah...hidayah milik Allah
Kalau boleh kita nak bawak semua umat Islam untuk sama-sama bangkit memperjuangkan Islam, namun apa daya kita, Nabi Nuh berdakwah seama beratus tahun namun masih tak dapat bawa semua umatnya bersama-samanya, begitu juga Rasulullah, bukan semua mahu bersama-sama baginda. Oleh, itu jangan bersedih, kita merancang, Allah juga merancang, tapi perancangan Allah adalah yang TERBAIK!!!
Semoga amalan-amalan kita buat ni menjadi benda YANG BAIK untuk dibawa ke akhirat kelak...InsyaAllah
Wallahualam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
